Just another WordPress.com site

A. Devinisi
Spina Bifida atau Sumbing Tulang Belakang adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh. ( A.H. Markum )
B. Etiologi
• Kekurangan asam folat pada saat kehamilan
satu gugus yang berperan dalam pembentukan DNA pada proses erithropoesis. Yaitu, dalam pembentukan sel-sel darah merah atau eritrosit (butir-butir darah merah) dan perkembangan sistem syaraf.
• Rendahnya kadar vitamin maternal
Rendahnya vitamin maternal yang di konsumsi akan mengurangi vitamin yang dibutuhkan dalam pembentukan embrio, apa lagi pada awal masa kehamilan, sehingga nutrisi yang dibutuhkan dalam membutuk tulang pada bayi, menjadi lambat dan kurang sempurna.

C. Jenis Spina Bifida
1. Okulta
merupakan spina bifida yang paling ringan. Satu atau beberapa vertebra tidak terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaputnya (meningens) tidak menonjol.
Gejalanya :
• Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang)
• Lekukan pada daerah sakrum
2. Meningokel
Adalah ketika kantung berisi cairan cerebro-tulang belakang (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang) dan meninges (jaringan yang meliputi sumsum tulang belakang), tidak ada keterlibatan saraf. meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan dari cairan dibawah kulit.
Gejala :
• menonjolnya meninges
• sumsum tulang belakang
• cairan serebrospinal

3. Mylomeningiokel
jenis spina bifida yang paling berat, dimana korda spinalis menonjol dan kulit diatasnya tampak kasar da merah. ini adalah ketika kantung berisi cairan cerebro-spinal, meninges, saraf dan bagian dari sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang mungkin tidak benar dikembangkan atau mungkin rusak. Tingkat kecacatan tergantung pada jumlah kerusakan saraf dan di mana spina bifida berada. Karena kerusakan kabel tulang belakang akan ada beberapa kelumpuhan dan hilangnya sensasi di bawah lesi
Gejala
• Penonjolan seperti kantung dipunggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir
• Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya
• Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki
• Penurunan sensasi
• Inkontinensia urine, maupun inkontinensia tinja
• Korda spinalis yang terkena, rentan terhadap infeksi (meningitis).

D. Komplokasi

Terjadi pada salah satu syaraf yang terkena dengan menimbulkan suatu kerusakan pada syaraf spinal cord, dengan itu dapat menimbulkan suatu komplikasi tergantung pada syaraf yang rusak.

• Kejang
• Hidrocephalus
Bayi lahir dengan spina bifida juga mungkin hydrocephalus. Selain lesi di sumsum tulang belakang, ada kelainan pada struktur bagian-bagian tertentu dari otak, yang menyebabkan obstruksi ke-cairan cerebro spinal (CSF) jalur drainase. CSF terakumulasi dalam ventrikel di otak, menyebabkan mereka membengkak, sehingga kompresi dari jaringan sekitarnya.

E. Patofisiologi

Diawali dengan hereditas dan lingkungan, rendahnya kadar vitamin maternal, kurangnya asam folat, keadaan ini menyebabkan kerusakan formasi sel darah merah,koenzim yang tidak terbentuk, mengakibatkan tabung saraf mengalami kegagalan untuk menutup selama bulan pertama pada masa kehamilan, maka terjadilah spina bifida atau sumbing tulang belakang.

F. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang

1. Faktor genetik
Faktor genetik merupakan dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik adalah sebagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa,. Potensi genetik yang bermutu jika berinteraksi dengan lingkungan secara positif akan dicapai hasil akhir yang optimal
2. Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang baik memungkinkan potensi bawaan tercapai, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan “ bio-fisiko-psiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayat, antara lain :
3. Faktor psikososial
Adalah Respon orang tua terhadap bayi/anak seperti Rasa bersalah, Kemampuan membuat keputusan tentang pengobatan/ tindakan segera,Kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang lain.

G. Pencegahan

• Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat.
• Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanita tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini.
• Pada wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.

H. Pemeriksaan Diagnostik

• USG
Untuk mengetahui apakah ada kelainan spina bifida pada bayi yang dikandung adalah melalui pemeriksaan USG. Hal itu dapat diketahui ketika usia bayi 20 minggu.
• Pemeriksaan darah pada ibu
Dengan teknik AFP : hanya membutuhkan sedikit sampel darah dari lengan ibu dan tidak beresiko terhadap janin. Bila hasil skrining positif biasanya diperlukan test lanjutan untuk memastikan adanya kelainan genetik pada janin yang lahir kelak menderita cacat.
I. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian keperawatan

• Riwayat prenatal
• Riwayat keluarga dengan defek spinal cord
• Pemeriksaan fisik :
? Peningkatan lingkar kepala
? Hipoplasi ekstremitas bagian bawah
? Kontraktur/ dislokasi sendi
? Adanya inkontinensia urin dan feses
? Respon terhadap stimulasi
? Kebocoran cairan cerebrospinal

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ganguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial
Tujuan :
1. Anak bebas dari infeksi
2. Anak menunjukan respon neurologik yang normal
Kriteria hasil :
? Suhu dan TTV normal
? Luka operasi, insisi bersih
Intervensi Rasional
• Monitor tanda-tanda vital dan Observasi tanda infeksi : perubahan suhu, warna kulit, malas minum , irritability, perubahan warna pada myelomeingocele
• Ukur lingkar kepala setiap 1 minggu sekali, observasi fontanel dari cembung dan palpasi sutura kranial
• Ubah posisi kepala setiap 3 jam untuk mencegah dekubitus
• Observasi tanda-tanda infeksi dan obstruksi jika terpasang shunt, lakukan perawatan luka pada shunt dan upayakan agar shunt tidak tertekan • Untuk melihat tanda-tanda terjadinya resiko infeksi

• Untuk melihat dan mencegah terjadinya TIK dan hidrosepalus

• Untuk mencegah terjadinya luka infeksi pada kepala (dekubitus)
• Menghindari terjadinya luka infeksi dan trauma terhadap pemasangan shunt
2. Berduka b.d kelahiran anak dengan spinal malformation
Tujuan :
Orangtua dapat menerima anaknya sebagai bagian dari keluarga
Kriteria hasil :
• Orangtua mendemonstrasikan menerima anaknya dengan menggendong, memberi minum, dan ada kontak mata dengan anaknya
• Orangtua membuat keputusan tentang pengobatan
• Orangtua dapat beradaptasi dengan perawatan dan pengobatan anaknya
Intervensi Rasional
• Dorong orangtua mengekspresikan perasaannya dan perhatiannya terhadap bayinya, diskusikan perasaan yang berhubungan dengan pengobatan anaknya
• Bantu orangtua mengidentifikasi aspek normal dari bayinya terhadap pengobatan

• Berikan support orangtua untuk membuat keputusan tentang pengobatan pada anaknya • Untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyalahkan

• Memberikan stimulasi terhadap orangtua untuk mendapatkan keadaan bayinya yang lebih baik
• Memberikan arahan/suport terhadap orangtua untuk lebih mengetahui keadaan selanjutnya yang lebih baik terhadap bayi
3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kebutuhan positioning, defisit stimulasi dan perpisahan
Tujuan :
Anak mendapat stimulasi perkembangan
Kriteria hasil :
• Bayi / anak berespon terhadap stimulasi yang diberikan
• Bayi / anak tidak menangis berlebihan
• Orangtua dapat melakukan stimulasi perkembangan yang tepat untuk bayi / anaknya
Intervensi Rasional
• Ajarkan orangtua cara merawat bayinya dengan memberikan terapi pemijatan bayi
• Posisikan bayi prone atau miring kesalahasatu sisi
• Lakukan stimulasi taktil/pemijatan saat melakukan perawatan kulit • Agar orangtua dapat mandiri dan menerima segala sesuatu yang sudah terjadi
• Untuk mencegah terjadinya luka infeksi dan tekanan terhadap luka
• Untuk mencegah terjadinya luka memar dan infeksi yang melebar disekitar luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: